Bukan Sekadar Makan, Orang Utan “Berburu” Ketupat di Hari Lebaran

18 hours ago 7

BONTANGPOST.ID, Samarinda – Suasana Lebaran tak hanya dirasakan manusia. Di sejumlah pusat rehabilitasi satwa di Kalimantan Timur, momen Idulfitri juga dihadirkan secara unik bagi para orang utan yang tengah menjalani proses pemulihan sebelum kembali ke habitat alaminya.

Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, yang dikelola Conservation Action Network (CAN), perayaan Lebaran diisi dengan pemberian makanan dalam balutan ketupat. Metode ini merupakan bagian dari pengayaan perilaku (enrichment) untuk merangsang kemampuan fisik dan kognitif satwa.

Sejumlah satwa, terutama empat bayi orang utan, tampak antusias. Makanan dimasukkan ke dalam anyaman ketupat dan digantung di area bermain, sehingga mereka harus memanjat, bergelantungan, hingga membuka anyaman tersebut untuk mendapatkan makanan.

Tak hanya orang utan, satwa lain seperti owa juga mendapat perlakuan serupa. Ketupat berisi makanan diikat di dahan yang dipenuhi dedaunan untuk merangsang perilaku alami saat mencari makan.

Founder sekaligus Direktur CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan setiap momen dapat menjadi sarana pembelajaran bagi satwa, termasuk saat Idulfitri.

“Metode enrichment ketupat ini bertujuan menantang kemampuan fisik dan kognitif bayi orang utan,” ujarnya.

Menurutnya, ketupat yang digantung bukan sekadar hiasan Lebaran, melainkan simulasi tantangan di alam liar. Aktivitas tersebut melatih kemampuan penting, seperti memanjat dan meraih makanan di pucuk pohon.

Selain itu, proses membuka anyaman ketupat juga melatih ketangkasan jari serta kesabaran satwa.

“Kami melihat antusiasme luar biasa. Mereka tidak sekadar makan, tetapi juga ‘berburu’ makanan,” tambahnya.

Hal serupa juga diterapkan di pusat rehabilitasi Center for Orangutan Protection (COP) melalui program Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kabupaten Berau.

Manajer BORA, Widi Nursanti, menjelaskan enrichment berfungsi menjaga perilaku alami orang utan selama masa rehabilitasi.

“Enrichment membuat mereka tetap aktif, berpikir, dan mencari cara untuk mendapatkan makanan,” jelasnya.

Ia menyebut, ketupat diisi potongan buah, selai, dan madu, sehingga selain unik juga merangsang indra penciuman serta kemampuan problem solving satwa.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyambut positif inovasi tersebut. Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini penting untuk menjaga kualitas rehabilitasi satwa.

“Media ketupat ini bukan sekadar kemasan unik, tetapi alat problem solving yang efektif untuk melatih kreativitas dan kemampuan alami satwa,” ujarnya.

Ia menambahkan, inovasi tersebut juga membantu mengurangi kejenuhan satwa selama berada di kandang serta memperkuat kesiapan mereka kembali ke alam liar.

“Momen ‘kupatan’ ini menjadi simbol bahwa setiap proses belajar yang mereka lalui adalah langkah menuju kepulangan ke habitat aslinya,” pungkasnya. (prokal)

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |