BONTANGPOST.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah cepat menyusul dugaan keracunan massal yang dialami ratusan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Operasional dapur penyedia makanan dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi.
Insiden tersebut juga menjadi perhatian serius BGN untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Evaluasi dilakukan guna memastikan seluruh proses penyediaan makanan berjalan sesuai standar keamanan pangan.
Selain menghentikan sementara operasional dapur yang terlibat, BGN mempercepat pembenahan sistem pengawasan, termasuk penerapan sistem digital yang memungkinkan setiap tahapan produksi makanan dipantau secara menyeluruh.
BGN Tegaskan Tidak Ada Toleransi
Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menegaskan pihaknya tidak akan memberikan toleransi terhadap pelanggaran yang berpotensi membahayakan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.
Usai menjenguk para korban di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, Sabtu (1/8), Sudaryono menegaskan komitmen tersebut.
“Saya sebagai Kepala Badan Gizi yang baru memastikan zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi dan praktik-praktik penyimpangan. Tidak boleh lagi ada titip-menitip uang maupun pelanggaran lainnya,” kata Sudaryono, dikutip dari Akurat.co, Senin (3/8).
Ia juga meminta seluruh petugas SPPG mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kalau ada petugas yang tidak mau mengikuti SOP, seperti tidak mencuci tangan, tidak memakai sarung tangan atau masker, harus dikeluarkan. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa seseorang, jadi tidak boleh ditoleransi,” tegasnya.
Dapur MBG Disuspensi
Sebagai tindak lanjut, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Karangturi yang memasok makanan ke SMK Negeri 6 Semarang.
Selain itu, surat peringatan juga diberikan kepada pengelola dapur, yayasan mitra, serta koordinator wilayah sambil menunggu hasil penyelidikan.
“Dapurnya kami suspend sambil menunggu hasil investigasi. Semua pihak yang terlibat juga kami beri peringatan,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, investigasi masih berlangsung untuk memastikan penyebab dugaan keracunan melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Dugaan sementara mengarah pada beberapa bahan makanan, seperti daun singkong dan bumbu rendang, maupun kemungkinan makanan dimasak terlalu lama sebelum didistribusikan.
“Hasil laboratorium kami perkirakan keluar sekitar lima sampai tujuh hari kerja. Setelah itu baru bisa dipastikan penyebabnya,” katanya.
707 Orang Alami Gejala
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG pada Jumat (31/7). Jumlah tersebut terdiri dari 693 siswa dan 14 guru SMK Negeri 6 Semarang.
Sebagian besar korban mengalami gejala berupa pusing, mual, muntah, dan diare. Dari jumlah tersebut, 13 orang menjalani perawatan di rumah sakit maupun puskesmas, sedangkan lainnya mendapat penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Dalam kunjungannya, Sudaryono juga mendatangi RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum untuk memastikan kondisi korban yang masih menjalani perawatan.
BGN Percepat Pengawasan Digital
Insiden ini turut mendorong BGN mempercepat penerapan sistem digital dalam pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis.
Melalui sistem tersebut, seluruh tahapan produksi makanan akan terdokumentasi secara real time, mulai dari pemotongan bahan, proses memasak, penggunaan bumbu, hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Menurut Sudaryono, sistem tersebut akan memudahkan pengawasan sekaligus mempercepat penelusuran apabila terjadi persoalan keamanan pangan di kemudian hari.
“Kami sedang kebut penerapan sistem ini. Nanti semua proses, mulai kapan sayur dipotong, kapan dimasak, bahan apa yang digunakan, semuanya tercatat dan bisa dimonitor,” pungkasnya. (KP)














































