BONTANGPOST.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur memberikan perhatian serius terhadap ancaman penyakit campak yang kini tengah diwaspadai penyebarannya.
Dalam agenda sosialisasi “Waspada Campak pada Anak”, terungkap bahwa cakupan imunisasi campak di Bumi Etam masih berada di angka 65 persen, angka yang dinilai masih jauh dari target nasional sebesar 95 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim, Fit Nawati, menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk melindungi kelompok paling rentan, yakni bayi dan balita.
Gejala campak yang meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga munculnya ruam merah pada kulit, harus diwaspadai karena virus ini memiliki tingkat penularan yang sangat cepat.
“Masih cukup jauh cakupan kita. Sekitar 30 persen anak masih belum terjangkau imunisasi,” ungkap Fit Nawati pada Senin (16/3).
Data Dinkes menunjukkan adanya ketimpangan capaian pada berbagai kelompok usia. Saat ini, cakupan imunisasi pada bayi usia 9 bulan baru menyentuh 62 persen, sementara untuk usia 18 bulan berada di angka 60 persen.
Kabar baiknya, kesadaran pada lingkungan pendidikan cukup tinggi, di mana imunisasi untuk anak kelas 1 SD telah mencapai 92 persen berkat kerja sama yang solid antara pihak sekolah dan orang tua.
Fit Nawati juga mengingatkan masyarakat mengenai perubahan jadwal imunisasi demi perlindungan yang lebih optimal. Jika dahulu hanya diberikan satu kali, kini anak wajib mendapatkan tiga dosis imunisasi campak, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat memasuki kelas 1 SD.
Selain melengkapi status imunisasi anak, masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal ini penting mengingat orang dewasa pun bisa menjadi perantara penularan jika daya tahan tubuh dan kondisi gizi mereka menurun.
Pemerintah berharap melalui edukasi yang masif, kesenjangan cakupan sebesar 30 persen ini dapat segera teratasi. Partisipasi aktif orang tua dengan membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayah Kalimantan Timur. (Prokal)


















































