Sungai Mahakam Surut, Warga Mahulu Mendulang Emas hingga Raup Rp3,7 Juta Sepekan

1 day ago 10

BONTANGPOST.ID, Mahakam Ulu – Surutnya Sungai Mahakam akibat kemarau tak hanya membatasi aktivitas warga di Mahakam Ulu (Mahulu). Bagi sebagian masyarakat, kondisi tersebut justru membuka peluang untuk mencari penghasilan dari aktivitas mendulang emas di bantaran sungai.

Sepanjang aliran Sungai Mahakam di Mahulu, dari hilir hingga hulu, warga terlihat memanfaatkan bantaran yang mulai terbuka akibat surutnya air. Dengan peralatan sederhana, mereka mencari logam mulia di antara pasir, kerikil, dan batuan.

Salah satunya Taufik, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang memilih mendulang emas di sela pekerjaannya.

Sudah sekitar sepekan Taufik menjalani aktivitas tersebut. Pagi hari, ia tetap masuk kantor dan melakukan absensi. Setelah pekerjaan di kantor tidak terlalu padat, ia turun ke sungai.

Menjelang siang, Taufik kembali menjemput anaknya pulang sekolah. Setelah itu, ia bersama istri dan anaknya kembali ke bantaran Sungai Mahakam untuk mencari emas.

“Seminggu sudah kami begawi (kerja) emas,” kata Taufik.

Penghasilan Sepekan Bisa Samai Gaji Sebulan

Bagi Taufik, kemarau kali ini justru membawa peluang. Dalam sehari, ia mengaku bisa mendapatkan sekitar 800 miligram emas.

Jika dikumpulkan selama sepekan, hasilnya bahkan bisa menyamai atau melampaui gaji bulanannya sebagai pegawai.

“Seminggu aku juga gajiku sebulan di kantor,” ujarnya.

Dalam sepekan, Taufik menyebut penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp3,6 juta hingga Rp3,7 juta per orang.

“Beruntung kemarau ini. Sekitar Rp3,6 juta sampai Rp3,7 juta kemarin seminggu, satu orang,” katanya.

Namun, mencari emas bukan pekerjaan yang sekadar mengandalkan keberuntungan. Di lokasi, warga menggunakan metode semprot dan sedot. Material pasir di bantaran sungai disemprot menggunakan aliran air bertekanan, kemudian disedot untuk diproses kembali.

Peralatan yang digunakan antara lain selang berukuran besar, pompa, pipa, serta perangkat penyaring untuk memisahkan material yang mengandung emas.

“Semprot, sedot sekalian,” ujar Taufik sambil menjelaskan cara kerja peralatan tersebut.

Material pasir yang sudah diproses kemudian masih dimanfaatkan warga lain, salah satunya sebagai bahan baku bangunan.

Aktivitas di bantaran sungai juga terasa seperti ruang keluarga sementara. Taufik membawa bekal makan siang, sedangkan istri dan anaknya ikut berada di lokasi.

“Sekalian piknik sama mamanya,” katanya.

Kemarau yang membuat permukaan Sungai Mahakam menyusut juga membuat warga memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas, mulai dari mandi hingga bermain air.

Di lokasi yang sama, seorang pengeret atau pengangkut material juga memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut. Dalam sehari, seorang pengeret disebut bisa mengangkut hingga sekitar 10 ret material. Satu ret pasir dijual kepada pembeli dengan harga sekitar Rp200 ribu.

Artinya, aktivitas di bantaran sungai tidak hanya memberikan penghasilan bagi pencari emas, tetapi juga warga lain yang terlibat dalam pengangkutan dan pemanfaatan material pasir.

Untuk memulai aktivitas tersebut, warga juga membutuhkan modal. Taufik memperlihatkan berbagai peralatan yang digunakan, sebagian dirakit secara sederhana dan memanfaatkan barang bekas.

“Sekarang dalam satu unit kami membangun minimal Rp15 juta,” katanya.

Modal tersebut belum termasuk risiko kerusakan peralatan maupun biaya operasional. Hasil emas yang diperoleh pun tidak selalu sama setiap hari.

Dari Pekerjaan Sampingan hingga Mata Pencaharian

Jika Taufik membagi waktu antara kantor dan sungai, cerita berbeda datang dari Puput. Bagi dia, mendulang emas telah menjadi pekerjaan utama.

Puput sudah lebih dari sebulan mencari emas di bantaran Sungai Mahakam kawasan Long Bagun Ilir. Ia mulai bekerja sejak air sungai surut dan masih bertahan karena musim kemarau belum berakhir.

Setiap hari, Puput mulai bekerja sekitar pukul 08.00 hingga 11.00. Setelah beristirahat, aktivitas kembali dilanjutkan hingga sekitar pukul 17.00.

Dengan duduk di air dangkal, Puput mengayunkan dulang berisi pasir dan kerikil secara perlahan. Material yang lebih ringan terbawa aliran air, sementara material dengan berat jenis lebih tinggi tertinggal di dasar dulang.

Di sekitarnya terdapat sejumlah peralatan sederhana, seperti perahu rakit, selang yang terhubung dengan mesin pompa, payung, kursi lipat, ember, dan wadah air.

Dalam sehari, Puput mengaku bisa memperoleh sekitar 500 miligram emas. Namun, hasil tersebut bergantung pada lokasi dan material yang didapat.

Emas hasil dulangan kemudian dijual kepada pengepul dengan harga sekitar Rp1,9 juta per gram.

Keahlian mendulang emas diperoleh Puput dari pengalaman serta belajar dari masyarakat lokal yang lebih dulu menjalani pekerjaan tersebut.

Sama seperti Taufik, Puput juga membutuhkan modal untuk menyiapkan peralatan. Biaya membangun satu unit peralatan disebut mencapai sekitar Rp12 juta hingga Rp15 juta.

Bagi Puput dan warga lainnya, sungai bukan sekadar tempat mencari emas. Sungai menjadi tempat bekerja, beristirahat, makan, hingga mandi ketika ketersediaan air bersih semakin terbatas.

Di Tengah Kabar Perusahaan Emas

Di tengah aktivitas mendulang emas secara tradisional, kabar mengenai rencana atau keberadaan perusahaan emas di wilayah Mahulu juga menjadi perhatian.

Puput mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kemungkinan tersebut. Jika suatu saat aktivitas perusahaan benar-benar masuk, ia memilih mengikuti perkembangan dan melihat pilihan yang dianggap terbaik.

Namun, kehadiran perusahaan berskala besar berpotensi menjadi tantangan bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas mencari emas secara tradisional.

Untuk saat ini, Puput memilih tetap bekerja di sungai selama peluang tersebut masih tersedia.

“Masih ada peluang. Masih enak untuk makan,” ujarnya. (KP)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |