BONTANGPOST.ID, Bontang – Pemerintah Kota Bontang terus memperkuat upaya menekan angka stunting di seluruh wilayah.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan penanganan stunting harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, hingga perusahaan melalui program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL).
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan III DPRD Kota Bontang, Rabu (13/5/2026).
“Sangat ironis melihat Kota Bontang masih memiliki angka stunting, sementara banyak perusahaan besar beroperasi di sini. Ini kesempatan bagi kita semua untuk melakukan intervensi melalui program TJSL,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Kelurahan Bontang Lestari tercatat memiliki prevalensi stunting tertinggi di Kota Bontang, yakni mencapai 22,71 persen dengan 124 balita stunting.
Sementara Kelurahan Guntung berada di posisi berikutnya dengan prevalensi 21,78 persen atau sebanyak 83 balita.
Selain itu, jumlah balita stunting di wilayah lain juga masih cukup tinggi. Kelurahan Loktuan tercatat memiliki 190 balita stunting, Tanjung Laut 147 balita, Tanjung Laut Indah 146 balita, Berebas Tengah 117 balita, Api-Api 112 balita, Gunung Elai 107 balita, Gunung Telihan 99 balita, Belimbing 93 balita, Berbas Pantai 80 balita, Bontang Baru 74 balita, Satimpo 51 balita, Bontang Kuala 45 balita, dan Kanaan 21 balita.
Neni meminta seluruh lurah, ketua RT, kader kesehatan, hingga pihak swasta bergerak aktif melakukan intervensi di lapangan.
Menurutnya, persoalan stunting seharusnya dapat ditangani apabila seluruh pihak bekerja bersama.
“Persoalan ini harusnya bisa diselesaikan karena jumlahnya tinggal ratusan anak saja. Mari kita evaluasi dan intervensi bersama-sama,” katanya.
Secara khusus, Neni menyoroti kondisi di Kelurahan Guntung yang berada dekat kawasan industri dan perusahaan besar.
Ia menargetkan penanganan 83 balita stunting di wilayah tersebut dapat dituntaskan tahun ini melalui kolaborasi dengan perusahaan sekitar.
Meski masih ditemukan angka yang cukup tinggi di beberapa wilayah, prevalensi stunting Kota Bontang secara umum menunjukkan tren penurunan.
Pada 2024, prevalensi stunting berada di angka 20 persen, kemudian turun menjadi 17 persen pada 2025. Bahkan berdasarkan data November 2025, angka tersebut kembali turun menjadi 15,69 persen.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bontang terus menggencarkan Gerakan Masyarakat Melawan Stunting melalui pemberian bantuan makanan bergizi senilai Rp25 ribu per hari bagi balita stunting selama 56 hari.
Evaluasi perkembangan anak juga dilakukan secara berkala untuk memastikan intervensi berjalan efektif.
Neni menegaskan seluruh lurah harus mengetahui kondisi riil di wilayah masing-masing, termasuk lokasi tempat tinggal anak yang mengalami stunting.
Menurutnya, penanganan stunting bukan sekadar mengejar penghargaan fiskal, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda Bontang.
“Tugas kita adalah menyelamatkan masa depan anak-anak Bontang demi menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (ak)


















































