BONTANGPOST.ID, Bontang – Distribusi air bersih di sejumlah wilayah Bontang mulai diberlakukan secara bergilir sejak 17 Agustus 2026. Perumda Air Minum Tirta Taman Bontang menerapkan sistem satu zona dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jalan Brigjen Katamso Kilometer 6.
Kebijakan ini diterapkan menyusul penurunan debit sumber air baku akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Pengaturan distribusi dilakukan untuk menjaga pemerataan pelayanan sekaligus memastikan tekanan air tetap mampu menjangkau pelanggan, terutama yang berada di wilayah dataran lebih tinggi.
Direktur Utama Perumda Tirta Taman Bontang, Suramin, mengatakan pola distribusi dari IPA Brigjen Katamso dibagi menjadi dua wilayah, yakni zona atas dan zona bawah. Masing-masing zona mendapatkan waktu aliran yang berbeda.
Zona atas mendapatkan distribusi air mulai pukul 07.00 hingga 11.00. Wilayah ini meliputi Jalan Brigjen Katamso, Jalan S. Parman, Jalan Balikpapan, Jalan Soekarno Hatta dan sekitarnya.
Sementara itu, zona bawah mendapatkan aliran mulai pukul 11.00 hingga 07.00 keesokan harinya. Wilayah tersebut mencakup Jalan MT Haryono, Jalan MH Thamrin, Jalan Awang Long, Jalan Mulawarman, Jalan Dewi Sartika, Jalan Cut Nyak Dien, Jalan R Soeprapto, Jalan Suryanata, Jalan Parkesit, Jalan DI Panjaitan, Jalan KP Tendean, Jalan KS Tubun, Jalan Pattimura, Perum BTN KCY, Jalan A Yani dan sekitarnya.
Kemudian Jalan Imam Bonjol, Jalan HM Ardhan, Jalan Tomat, Jalan Brokoli, Jalan Durian, Jalan Selat Bone, Jalan Selat Selayar, serta Jalan Ir H Juanda dan sekitarnya.
Suramin menjelaskan, pembagian zona tersebut dilakukan untuk menjaga tekanan air agar tetap merata di seluruh wilayah pelayanan.
“Ini kita bagi untuk mendorong supaya tekanan merata. Kalau dibuka semua, daerah dataran rendah memang mengalir, tetapi yang dataran lebih tinggi harus menunggu sampai tekanannya cukup,” kata Suramin.
Menurutnya, jika seluruh jaringan dibuka secara bersamaan, wilayah dataran rendah akan lebih cepat menerima aliran. Sementara pelanggan di wilayah yang lebih tinggi membutuhkan tekanan lebih besar agar air dapat mencapai jaringan rumah.
Penurunan debit sumber air baku menjadi alasan utama diberlakukannya pola distribusi tersebut. Bahkan, sumber air di wilayah barat mengalami penurunan hingga 50 persen.
Sementara kapasitas sejumlah sumur juga mengalami penurunan. Namun, persentasenya relatif lebih kecil, yakni sekitar 2 hingga 3 persen dan paling tinggi sekitar 5 persen.
Suramin menegaskan, pengaturan distribusi tersebut bukan berarti pelayanan air dihentikan. Sistem ini merupakan strategi untuk mengatur tekanan sehingga air dapat didorong secara bergantian ke wilayah pelayanan.
Perumda akan terus mengevaluasi kondisi sumber air. Jika kemarau berkepanjangan dan debit air baku kembali turun, cakupan pengaturan distribusi dapat diperluas.
Sebaliknya, apabila kondisi cuaca dan sumber air baku kembali normal, pelayanan akan dikembalikan seperti semula.
“Kalau kondisi cuaca dan air baku kembali normal, pelayanan akan kita kembalikan seperti semula. Kita lihat dulu perkembangannya,” ucapnya.
Untuk mengantisipasi pelanggan yang mengalami gangguan aliran, Perumda juga menyiapkan layanan distribusi menggunakan mobil tangki. Namun, layanan tersebut memiliki keterbatasan sehingga diprioritaskan bagi wilayah tertentu yang membutuhkan.
Suramin mengimbau pelanggan yang terdampak pengaturan distribusi untuk menampung air ketika aliran sedang tersedia.
Perumda juga meminta masyarakat segera melaporkan gangguan maupun kebocoran jaringan agar dapat segera ditangani. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kehilangan air semakin besar di tengah kondisi pasokan yang masih terbatas. (ak)


















































