BONTANGPOST.ID – Seorang mahasiswa asal Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) pingsan di tengah ricuhnya aksi demonstrasi di depan Gedung UOB, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/8).
Insiden tersebut terjadi setelah sebelumnya terdapat aksi saling dorong antara petugas kepolisian dan massa aksi yang ingin menyampaikan orasi di Bunderan Hotel Indonesia.
Peserta aksi beralmamater hijau itu langsung mendapatkan penanganan medis darurat di ruas jalur Transjakarta. Petugas di lapangan dengan cepat membawanya ke mobil ambulans terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
Diketahui, ribuan mahasiswa dari BEM UI serta aliansi mahasiswa lainnya dicegat aparat kepolisian saat bergerak menuju kawasan Bundaran HI. Meski orasi terus bergema secara bergantian dari atas mobil komando, massa sesekali tetap berupaya menerobos barikade petugas.
BEM UI Ungkap Alasan Aksi di Bundaran HI
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan (Athof), membeberkan alasan aliansi mahasiswa tidak memilih Gedung DPR RI sebagai pusat penyampaian aspirasi kali ini.
“Justru kenapa harus DPR? Dengan kondisi mereka tidak berfungsi,” ujar Athof kepada JawaPos.com, Selasa (18/8).
Athof menilai kondisi sosial-politik Indonesia saat ini tengah mengalami krisis kedaulatan yang nyata. Menurutnya, aksi yang mengerahkan sekitar 1.000 massa ini digelar karena masyarakat luas belum merasakan kemerdekaan hakiki, sementara penguasa terkesan enggan mendengarkan suara publik.
Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, menambahkan bahwa massa membawa delapan tuntutan untuk pemerintah yang seluruhnya memiliki tingkat urgensi sama.
“Benang merahnya bahwa negara ini semakin kuat, sementara rakyat semakin lemah dan tidak ada checks and balances yang memadai yang betul-betul bisa membuat pemerintah itu terbatas power-nya,” tegas Fathimah di lokasi aksi.
Fathimah menekankan perlunya pembatasan kekuasaan agar pemerintah tidak bertindak melampaui batas kewenangan yang merugikan masyarakat.
“Power kan harus dibatasi dan itu yang sebetulnya mengerikan bagi kita. Kita ingin itu tidak semakin jauh,” tambahnya.
Soroti Klaim Kepolisian Soal Gangguan Ketertiban
Fathimah turut mempertanyakan klaim Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E.P. Hutagalung yang menyatakan penyekatan aksi didasari oleh keluhan masyarakat pekerja perkantoran sekitar.
“Saya ingin minta bantuan kepada seluruh masyarakat, terutama mungkin yang ada di perkantoran-perkantoran di tempat kita demonstrasi hari ini untuk mengonfirmasi, apakah betul?,” ujar Fathimah.
Ia menagih komitmen pertanggungjawaban kepolisian jika klaim tersebut tidak terbukti di lapangan.
“Beliau tadi sudah siap untuk bertanggung jawab apabila pernyataan beliau ini salah dan mengklaim mengatasnamakan semua orang padahal ternyata tidak. Kalau terganggu maka kita akan evaluasi, tapi apabila mereka justru mendukung, maka Pak Reynold kita tunggu untuk bertanggung jawab atas omongannya dan bertanggung jawab sudah menahan kawan-kawan di sini,” tegasnya.
Penjelasan Polda Metro Jaya Terkait Pengadangan Massa
Secara terpisah, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menegaskan pengadangan dilakukan untuk mencegah kelumpuhan arus lalu lintas di kawasan pusat ekonomi tersebut.
“Apabila aksi dilaksanakan di Bundaran HI, ini akan mengunci potensi arus lalu lintas kemacetan di berbagai simpul yang ada,” terang Budi.
Ia menjelaskan langkah pengamanan diambil demi menjaga ketertiban umum dan keberlangsungan aktivitas warga lainnya.
“Apabila arus lalu lintas sudah lumpuh, artinya kami juga hadir dalam tidak berempati terkait tentang aktivitas masyarakat lainnya,” tambahnya.
Untuk mengamankan jalannya demonstrasi, sebanyak 9.242 personel gabungan dikerahkan di berbagai titik vital. Dari jumlah tersebut, 6.962 personel diturunkan oleh Polres Metro Jakarta Pusat dengan pendekatan persuasif tanpa senjata api. (jpg)


















































