Pariwisata di Kampung Malahing sudah sampai kancah nasional. Gerbang kampung dipercantik, fasilitas wisata ditambah. Tapi, untuk pendidikan Malahing masih tertinggal.
BONTANGPOST.ID, Bontang – Fajar menyingsing. Debur ombak terdengar lirih. Anak-anak berseragam putih merah mulai merapat ke dermaga. Lainnya berseragam putih biru dan putih abu-abu. Jarum jam membentuk garis vertikal, menunjukkan pukul 06.00. Puluhan murid itu bersiap menjemput ilmu. Mengais pengetahuan di daratan seberang.
Hanya ada laut lepas sepanjang mata memandang. Permukiman yang dihuni sekitar 62 Kepala Keluarga (KK) itu berada di sebuah kampung di atas laut. Masuk di wilayah Kelurahan Tanjung Laut Indah. Kampung bernama Malahing yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan.
Tak asing mestinya, sebab Malahing pernah keluar sebagai juara tiga kategori Desa Wisata Maju dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 lalu. Pesona wisata di pulau ini menggaung di tingkat nasional. Pengembangan wisata pun menjadi atensi.
Nuraini dan teman-temannya beranjak naik ke kapal. Melangkah dengan hati-hati dan duduk di atas perahu. Kemudian menunggu yang lainnya naik sambil menjaga keseimbangan. Perahu milik warga setempat digunakan sebagai kendaraan untuk anak-anak pergi ke sekolah. Biasanya satu kapal diisi sepuluh orang.
Beban biaya bahan bakar ditanggung bersama. Dibayar bergantian. Namun ada pula yang memilih membayar satu bulan penuh. Bahan bakar diisi dua liter untuk pulang pergi dengan harga Rp28 ribu.
Bila cuaca sedang bagus, waktu yang ditempuh untuk sampai ke pelabuhan 15 hingga 20 menit. Berbeda jika lautan sedang tak bersahabat. Nuraini dan rombongan anak sekolah lain dapat menghabiskan waktu lebih dari 30 menit untuk menyeberang.
Perjalanan laut tidak selamanya mulus. Gelombang laut dan kencangnya angin terkadang menjadi musuh. Air laut beradu dengan kapal yang melawan arus. Bulir air menyiprat ke mana-mana. Penumpang kapal harus bersabar. Bajunya basah semua. “Kalau lagi gelombang ditambah angin kencang, sudah pasti seragam jadi basah,” ujarnya.
Sembari menahan dingin, kapal masih melaju membelah lautan. Perjalanan berlanjut hingga ke pelabuhan. Namun anak-anak harus mengumpulkan tenaga, sebab setelah ini mereka mesti menempuh perjalanan ke sekolah masing-masing dengan berjalan kaki.
Tak terkecuali perempuan yang kerap disapa Aini itu. Murid SMK YKPP ini harus berjalan kaki ke sekolahnya yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pelabuhan.
Berbeda lagi kondisinya ketika hujan badai. Anak-anak terpaksa tidak masuk sekolah karena kapal tidak memungkinkan untuk menyeberang. Sekolah masing-masing anak akan dikabari, murid dari Malahing tidak dapat masuk kelas.
Menanti Jemputan di Pelabuhan
Usai menghadapi lelahnya belajar di sekolah, ditambah perjalanan ke pelabuhan yang lumayan jauh, anak-anak sekolah dari Malahing mesti menunggu jemputan.
Mereka akan berkumpul di pelabuhan untuk menunggu teman-teman lainnya, yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda. Waktu kepulangan menjadi tak pasti. Aini biasanya pulang sekolah pukul 13.00. Namun baru sampai di rumah sekitar pukul 14.00. Paling lama, dirinya pernah sampai di rumah pukul 16.00.
Saat-saat menunggu jemputan diisi dengan bertukar cerita dengan teman lainnya atau bermain ponsel. Ada pula yang memilih untuk mengerjakan tugas sekolah. Perjalanan yang jauh membuat mereka harus pandai mengatur waktu. “Kami biasanya berkumpul di pos pelabuhan menunggu anak-anak lain pulang sekolah. Kan enggak mungkin ditinggal. Ada yang memanfaatkan waktu untuk mengerjakan PR (pekerjaan rumah),” kata dia.
Meski demikian, cuaca tidak dapat diprediksi. Apabila hujan turun, para murid harus menunggu reda. Namun jika tiba-tiba hujan saat perjalanan pulang, mereka hanya pasrah. Deras hujan tak dapat dihindari. Tas yang berisi buku-buku ikut basah, karena kapal yang ditumpangi tak dilengkapi dengan atap.
Kondisi perairan juga tidak dapat diperkirakan. Surutnya air tak jarang membuat mereka harus menunggu pasang. Lantaran tak memungkinkan menyeberang kala laut surut. Pernah suatu ketika mereka nekat untuk pulang, namun kapal tersangkut di tengah-tengah. Dasar laut rupanya tidak sama, karena ada yang dangkal.
Para murid pun harus turun dari kapal. Bekerja sama dan berjibaku mendorong kapal agar dapat kembali berlayar. Pekerjaan yang tidak mudah, tetapi harus dilalui agar lebih cepat sampai di rumah. Lagipula, perut sudah keroncongan. Beberapa anak memang membawa bekal. Ada pula yang mampu membeli makan atau sekadar jajan untuk mengganjal perut saat menunggu di pelabuhan. Namun tidak semua anak beruntung membawa uang saku lebih. Ada yang harus menunda lapar dan memilih bersantap siang di rumah.

Khawatirkan Keamanan
Berbeda dengan anak-anak yang tinggal di daratan, anak-anak pesisir seperti Malahing mesti melintasi laut untuk pergi ke sekolah. SD yang ada di kawasan ini hanya mengakomodasi siswa hingga kelas 5. Kelas 6 dilanjutkan di SD YPPI Tanjung Laut. Sementara murid SMP dan SMA bersekolah di daratan.
Tiga kapal biasanya digunakan untuk mengangkut anak-anak yang hendak menuntut ilmu. Namun tidak ada pengaman atau life jacket yang dipakai masing-masing anak. Hal itu pun sebenarnya menumbuhkan kekhawatiran tersendiri. Terlebih bagi orang tua.
Ketua RT 30 Malahing, Nasir Lakada, mengakui bila anak-anak yang menyeberang belum dilengkapi dengan fasilitas keselamatan seperti life jacket. “Khawatir juga sebenarnya. Setiap hari kan menyeberang untuk pergi ke sekolah,” jelas pria yang juga menjadi wali murid salah satu siswa SMP itu.
Ia mengharapkan hal itu dapat menjadi salah satu perhatian pemerintah. Baik soal pemenuhan dan perbaikan transportasi laut yang lebih memadai, hingga disediakannya life jacket.
Lebih lanjut, pihaknya juga menyoroti pertengahan rute antara pelabuhan dengan Kampung Malahing yang bagian dasar lautnya lebih dangkal, sehingga kapal-kapal kerap tersangkut. “Kalau memungkinkan, ingin ada pengerukan di bagian tengah tersebut. Anak-anak sering mendorong kapal kalau ternyata laut surut karena kapalnya tersangkut di area itu,” ujar dia.
Minimnya Pilihan Sekolah
Persoalan transportasi berdampak pada minimnya sekolah yang dapat dipilih oleh anak-anak Malahing. Mayoritas hanya dapat memilih sekolah-sekolah terdekat sebab mempertimbangkan jarak. Mengingat anak-anak sekolah di Malahing berjalan kaki ke sekolah dari pelabuhan.
Kebingungan dan rasa bimbang tak hanya melanda murid, melainkan juga dirasakan oleh orang tua. Misalnya sekolah kejuruan di Bontang yang memiliki jurusan berbeda di masing-masing sekolah. Lokasinya yang tersebar di Bontang cukup sulit dijangkau oleh anak-anak pesisir, sehingga mereka juga harus mempertimbangkan moda transportasi yang akan digunakan bila bersekolah di lokasi yang cukup jauh nantinya.
Kata dia, semangat anak-anak untuk bersekolah tidak boleh terpendam hanya karena terhalang transportasi. “Bingung sebetulnya, karena mau naik apa anak-anak dari pelabuhan kalau sekolahnya jauh,” sebut dia.
Menanggapi itu, guru besar Universitas Mulawarman (Unmul) Prof Susilo menyebut, pemerintah harus hadir dan memiliki kewajiban untuk menunjang pendidikan dasar bagi masyarakat. Terutama dalam hal memberikan fasilitas kepada anak-anak sekolah.
Menurutnya, terdapat beberapa opsi yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Apabila jumlah murid di kampung tersebut banyak, dapat dilakukan pembangunan sekolah. Namun jika jumlah murid sedikit dan tidak memungkinkan untuk dilakukan pembangunan, pembenahan transportasi dapat menjadi opsi. Kapal atau perahu yang digunakan oleh para murid harus layak dan sesuai dengan standar. “Misal ada atapnya, lebih tertutup serta dilengkapi dengan life jacket. Pada prinsipnya dapat mengakomodasi murid-murid yang ingin menyeberang,” ucap dia.
Selain itu, transportasi yang disediakan itu dikhususkan untuk anak sekolah serta tidak dipungut biaya alias gratis, sehingga para murid tidak perlu lagi mengeluarkan dana hanya untuk menyeberang ke pelabuhan. “Pemerintah bisa menyediakan transportasinya, atau skema lain dengan tetap menggunakan kapal yang biasa ditumpangi, namun ada kebijakan terkait tarif yang sebelumnya dibayarkan oleh anak-anak sekolah,” terangnya.
Sementara transportasi dari pelabuhan ke sekolah masing-masing anak tergantung pada kebijakan daerah. Bila pemerintah ingin melakukan pengadaan angkutan yang dikhususkan untuk mengangkut anak sekolah di kawasan pesisir, hal itu memerlukan kajian dengan memerhatikan jumlah siswa.
Kendati demikian, bus sekolah milik pemerintah sejatinya dapat dimanfaatkan untuk mengantarkan anak-anak pesisir. Trayek atau rute bus dapat diatur, sehingga dapat menjangkau anak-anak yang berangkat dari pelabuhan. “Trayeknya dapat diakomodasikan ke pelabuhan untuk menjemput anak-anak,” tutur dia.
Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) Bontang, angka partisipasi sekolah (APS) pada 2023 lalu untuk usia 7 sampai 12 tahun sebesar 99,07 persen. Kemudian usia 13 sampai 15 tahun sebesar 97,56 persen. Usia 16 sampai 18 tahun sebesar 83,39 persen. Adapun usia 19 sampai 23 tahun hanya 21,35 persen. Sebagaimana diketahui, APS ialah perbandingan jumlah murid yang bersekolah dengan penduduk usia sekolah di suatu daerah.
Selanjutnya, angka partisipasi kasar (APK) di Bontang pada 2022 untuk tingkat SD sederajat yaitu 105,07 persen. Tingkat SMP sederajat yakni 76,01 persen dan SMA sederajat sebesar 81,15 persen. APK merupakan perbandingan jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu (terlepas dari usia) dengan jumlah penduduk usia sekolah di jenjang yang sama.
Adapun angka partisipasi murni (APM) di Bontang pada 2023 lalu, jenjang SD sederajat sebesar 99,72 persen. Jenjang SMP sederajat sebesar 83,62 persen dan jenjang SMA sederajat sebesar 78,83 persen. Angka ini merupakan partisipasi penduduk yang bersekolah pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni memastikan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan untuk anak sekolah di pesisir. Ia membeberkan, semangat anak-anak untuk bersekolah harus dijaga dan didukung dengan akomodasi yang baik. “Mereka mau sekolah saja alhamdulillah. Pemerintah pasti akan menyediakan,” bebernya.
Pihaknya pun menargetkan sarana prasarana anak sekolah pada 2026. Mengingat pada periode sebelumnya, tidak dianggarkan transportasi tersebut. Sementara perencanaan perlu dilakukan terlebih dahulu.
Nantinya, life jacket untuk anak-anak sekolah turut diakomodasi. Lantaran keamanan dan keselamatan tetap menjadi hal yang penting. “Kalau kapal pasti butuh desain dan perencanaan, enggak bisa mendadak. Insyaallah tahun depan kami lengkapi,” ungkap dia.
Ia menuturkan, bus sekolah dalam kota juga akan dilengkapi. Pihaknya bakal melakukan pendataan jumlah murid beserta sekolah masing-masing. “Akomodasi angkutan anak-anak sekolah di pesisir dan guru-gurunya harus disiapkan oleh pemerintah. Kami akan sediakan,” tandasnya. (*)