Siasat Driver Ojol Jaga Margin Hadapi Risiko Ongkos Operasional yang Makin Tinggi

7 hours ago 4

Bisnis.com, JAKARTA — Pekerjaan sampingan sebagai mitra pengemudi transportasi online tak semudah yang dibayangkan. Untuk menjaga agar tetap membawa uang ke rumah, pengemudi harus memutar otak hadapi beban tinggi operasional.

Iwan, seorang karyawan yang merangkap sebagai pengemudi taksi online sejak tiga tahun lalu, mengatakan untuk menjaga saldo keuntungan kini jauh lebih sulit dibandingkan saat dirinya baru memulai menjadi driver.

Struktur biaya operasional mobil yang tinggi menjadi musuh utama. Iwan memaparkan, dalam satu hari operasional, dia rata-rata bisa mengumpulkan pendapatan kotor sebesar Rp500.000. Namun, angka tersebut segera luruh tergerus pengeluaran harian yang tidak kecil, baik untuk bahan bakar kendaraan maupun untuk makan sehari-hari.

Ongkos ini dikhawatirkan akan naik menyusul ketegangan yang terjadi yang berisiko berdampak pada harga makanan di warteg langganan Iwan dan harga pertalite yang biasa dia gunakan.

“Bensin saja habis Rp400.000, ditambah tol dan makan Rp50.000. Bersihnya cuma Rp50.000-an. Rasanya pendapatan di aplikasi hanya lewat untuk operasional,” ujar Iwan kepada Bisnis, Minggu (5/4/2026).

Untuk menyiasati pendapatan yang kian tipis, Iwan menerapkan strategi selektif terhadap arah pesanan. Dia cenderung memilih rute yang searah dengan jalan pulang untuk menekan konsumsi bahan bakar agar tidak terbuang sia-sia. Namun, strategi efisiensi ini kerap berbenturan dengan sistem algoritma aplikasi.

Iwan bercerita dirinya sempat terkena sanksi penangguhan (suspend) karena terlalu sering menyortir pesanan. Baginya, tanpa insentif yang besar seperti beberapa tahun lalu, mengandalkan tarif dasar murni tanpa strategi rute yang presisi hanya akan membuat pengemudi mobil menanggung risiko kerugian yang tinggi.

Pemandangan berbeda terlihat di sektor roda dua. Yuri, pengemudi ojek online (ojol) yang telah menekuni profesi ini sebagai mata pencaharian utama sejak 2020, menunjukkan bahwa efisiensi armada menjadi pembeda kunci dalam struktur biaya.

Dengan menggunakan motor, Yuri mampu menekan biaya bahan bakar hingga titik terendah. “Bensin Rp40.000 sehari sudah cukup,” katanya.

Dengan mobilitas yang lebih lincah menembus kemacetan, Yuri mampu mengejar target hingga 20 perjalanan (trip) per hari, yang menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp600.000.

Kunci keberhasilan Yuri dalam menjaga pendapatan tetap stabil terletak pada disiplin. Dia secara konsisten menerapkan sistem “dana cadangan” harian. Setiap hari, Yuri wajib menyisihkan Rp20.000 dari pendapatannya khusus untuk biaya perawatan rutin dan servis kendaraan.

“Pengeluaran harian saya di kisaran Rp100.000, jadi masih bisa bawa pulang pendapatan bersih sekitar Rp500.000,” imbuh Yuri.

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |