BONTANGPOST.ID, Bontang – Pemerintah Kelurahan Gunung Elai mulai menata kawasan mangrove di wilayah pesisir sebagai destinasi wisata baru berbasis konservasi. Selama sekitar satu bulan terakhir, pembersihan kawasan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Lurah Gunung Elai, Sulistyo, mengatakan penataan kawasan tersebut menjadi langkah awal untuk menghadirkan ruang wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Pembersihan dilakukan bersama ketua RT, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta warga setempat.
“Sudah sekitar satu bulan kami melakukan pembersihan bersama warga. Semua bergerak bersama, mulai dari RT, LPMK, Pokdarwis hingga masyarakat sekitar,” ujarnya.
Kawasan yang akan dikembangkan berada di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan dapat diakses melalui jembatan baru yang beberapa waktu lalu sempat menjadi perhatian masyarakat.
Menurut Sulistyo, lahan tersebut merupakan tanah prodesa yang selama bertahun-tahun belum dimanfaatkan secara optimal. Dahulu, sebagian area bahkan pernah digunakan sebagai lapangan voli oleh warga sebelum akhirnya dipenuhi semak belukar dan ilalang.
Melihat potensi kawasan yang berada di tepi hutan mangrove, pemerintah kelurahan kemudian menggelar musyawarah bersama tokoh masyarakat. Hasilnya, seluruh pihak sepakat mengembangkan lokasi tersebut menjadi destinasi wisata alam yang diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Kami berdiskusi dengan warga dan tokoh masyarakat. Kesepakatannya adalah memanfaatkan kawasan ini untuk pengembangan wisata yang nantinya bisa mendukung ekonomi masyarakat,” katanya.
Sulistyo menegaskan, proses penataan tidak dilakukan dengan menebang pohon mangrove. Pembersihan hanya difokuskan pada rumput liar, ilalang, dan tanaman yang menghambat akses menuju kawasan.
“Kami tidak menebang mangrove. Yang dibersihkan hanya ilalang dan tanaman liar. Mangrove tetap dipertahankan karena menjadi habitat berbagai satwa,” jelasnya.
Keberadaan hutan mangrove yang masih alami juga menjadi habitat berbagai jenis burung yang kerap terlihat pada sore hari. Potensi tersebut akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam pesisir.
Karena itu, konsep wisata yang disiapkan mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan konservasi. Selain menyuguhkan panorama mangrove, kawasan tersebut juga dirancang menjadi ruang publik bagi masyarakat.
Ke depan, pemerintah kelurahan berencana melengkapi kawasan dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti gazebo, anjungan pandang, hingga area bagi pelaku UMKM agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Pengelolaan kawasan nantinya akan melibatkan Pokdarwis, warga setempat, Linmas, serta Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) untuk menjaga keamanan sekaligus memastikan kelestarian lingkungan tetap terjaga.
“Kami ingin wisata ini berkembang, tetapi tetap menjaga keamanan dan kelestarian lingkungannya. Mangrove dan habitat burung harus tetap terjaga karena itu bagian dari daya tarik kawasan ini,” tuturnya.
Sulistyo berharap wisata mangrove yang tengah dirintis tersebut dapat menjadi ikon baru Kelurahan Gunung Elai sekaligus menambah pilihan destinasi wisata alam di Kota Bontang.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan pariwisata yang berkelanjutan, menjaga lingkungan, dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (ak)


















































