Jakarta, CNN Indonesia —
Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, setelah lebih dari satu bulan pertempuran.
Namun, kesepakatan itu dinilai masih rapuh karena banyak isu yang belum terselesaikan dan gencatan senjata berpotensi memicu konflik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut enam masalah utama yang membuat gencatan AS-Iran rapuh berdasarkan analisis CSIS.
Gencatan senjata atau sekedar jeda konflik
AS-Israel dan Iran baru menyepakati gencatan senjata, bukan penyelesaian konflik. Berbagai isu masih menggantung, termasuk program nuklir dan rudal Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi, serta tuntutan penghentian sanksi AS.
Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS dan Israel serta jaminan serangan lanjutan tidak akan terjadi.
Ada kemungkinan gencatan senjata ini berubah menjadi kondisi “tanpa perang, tanpa damai”, dengan risiko eskalasi sewaktu-waktu.
Program nuklir Iran
Program nuklir Iran tetap menjadi isu paling sensitif dalam hubungan AS-Iran. Meski serangan militer AS dan Israel pada 2025 dan 2026 merusak banyak fasilitas nuklir Iran, persoalan utamanya belum terselesaikan.
Iran bersikeras programnya bersifat damai dan mempertahankan hak memperkaya uranium, sementara AS dan Israel melihatnya sebagai jalur menuju senjata nuklir.
Teheran mengeklaim Washington telah menerima hak itu dalam gencatan senjata, klaim yang belum jelas kebenarannya.
Namun, tekanan militer justru bisa mendorong Iran mempercepat ambisi nuklirnya sebagai alat pencegah serangan di masa depan.
Perang Lebanon belum berhenti
Gencatan senjata tidak sepenuhnya mencakup operasi Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
Israel tetap melanjutkan serangan, sementara konflik di Lebanon telah menewaskan hampir 1.500 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi.
Tekanan terhadap Hizbullah memang dapat melemahkan pengaruh Iran, tetapi juga berisiko meruntuhkan stabilitas Lebanon dan menciptakan kekosongan kekuasaan baru. Akibatnya, kawasan tetap rentan terhadap konflik berkepanjangan.
Ancaman teror dan balas dendam
Serangan terhadap Iran meningkatkan risiko terorisme internasional oleh Iran atau kelompok sekutunya.
Teheran memiliki sejarah melakukan operasi pembalasan, terlebih setelah kehilangan ratusan pejabat senior dalam konflik terbaru. Namun, langkah itu juga berisiko menjadi bumerang.
AS dan Israel memiliki kemampuan intelijen kuat untuk menggagalkan serangan, dan aksi teror justru dapat memperkuat dukungan internasional terhadap tindakan militer melawan Iran.
Di sisi lain, kerusakan besar yang dialami kelompok proksi Iran bisa membuat mereka lebih berhati-hati untuk memicu eskalasi baru.
Dampak hubungan AS dan sekutu
Perang Iran berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi hubungan AS dengan sekutunya. Konflik ini tidak populer di Eropa dan turut memperburuk inflasi serta pertumbuhan ekonomi global.
Sekutu NATO juga kecewa karena tidak diajak berkonsultasi sebelum perang dimulai. Selain itu, penggunaan besar-besaran aset militer AS mengurangi kesiapan menghadapi Rusia maupun menahan pengaruh China.
Beijing memanfaatkan situasi ini untuk menggambarkan AS sebagai mitra yang tidak stabil, yang dapat membuat sekutu Washington menjadi lebih berhati-hati di masa depan.
Risiko perang setelah perang
Meski pertempuran besar mereda, Israel dan Iran kemungkinan tetap terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Israel mungkin terus melakukan serangan terbatas untuk mencegah Iran membangun kembali kekuatan militernya, sementara Iran melihat perlawanan berkelanjutan sebagai kebutuhan strategis.
Tekanan domestik di kedua negara turut memperkuat siklus ini. Iran dapat menggunakan konflik untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal, sementara Israel mempertahankan strategi serangan preventif terhadap musuhnya.
Hasilnya adalah pola konflik berulang, serangan siber, kekerasan proksi, dan eskalasi berkala, alih-alih perdamaian stabil.
(rnp/dna)
Add as a preferred
source on Google

7 hours ago
5



































