Terungkap Perang Trump vs Iran Malah Bikin Tekor Warga AS Rp17 Ribu T

7 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia

Genderang perang yang ditabuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu ternyata malah menjadi bumerang bagi warga Negeri Paman Sam. 

Seorang akademis Harvard menyebut perang AS dengan Iran berpotensi membebani warga AS pembayar pajak jauh lebih besar dari angka resmi. Sebab, biaya perang AS ke Iran bisa menambah hutang Negeri Paman Sam yang juga sudah menumpuk.

Dalam penelitiannya, pakar kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Profesor Linda Bilmes, menuturkan biaya perang AS ke Iran berpotensi mencapai sekitar US$1 triliun (sekitar Rp17.155 triliun), jauh lebih tinggi dari perhitungan Kementerian Pertahanan AS di awal masa perang.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Saya yakin kita akan mencapai angka $1 triliun (sekitar Rp17.155 triliun) untuk perang melawan Iran,” kata Bilmes dikutip CNBC International.

Menurut laporan Pentagon kepada Kongres, sekitar enam hari pertama operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari menghabiskan sekitar US$11,3 miliar (sekitar Rp194 triliun).

Dalam risetnya yang dirilis dua hari sebelum pengumuman gencatan senjata sementara AS-Iran pada 8 April ini, Bilmes mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat berdampak serius terhadap utang nasional AS dalam jangka panjang.

Bilmes memperkirakan biaya awal jangka pendek mencapai sekitar US$2 miliar (sekitar Rp34,3 triliun) per hari selama 40 hari konflik berlangsung. Angka ini mencakup biaya amunisi, pengerahan pasukan, serta kerusakan aset militer AS selama perang, termasuk tiga jet tempur F-15 AS yang jatuh akibat salah tembak dari Kuwait.

Namun, Bilmes menilai biaya sebenarnya lebih besar dari yang terlihat karena Pentagon masih menggunakan harga lama, bukan biaya penggantian saat ini yang jauh lebih mahal.

“Kesenjangan ini adalah salah satu alasan mengapa angka yang dilaporkan sebesar $11,3 miliar (sekitar Rp194 triliun) lebih mendekati US$16 miliar (sekitar Rp274 triliun),” kata Bilmes.

[Gambas:Video CNN]

“Hal ini mencerminkan kesenjangan yang terus-menerus antara apa yang dilaporkan Pentagon secara real time dan biaya perang yang sebenarnya,” tambahnya.

Menurutnya, kontrak besar dengan Lockheed Martin dan Boeing membuat biaya pengisian ulang bagi AS jauh lebih tinggi.

Biaya satu pesawat pencegat mencapai $4 juta (sekitar Rp68,5 miliar) per unit, jauh lebih mahal dibanding drone Iran yang hanya sekitar $30.000 (sekitar Rp514 juta).

Di sisi lain, Gedung Putih mengajukan anggaran pertahanan sebesar $1,5 triliun (sekitar Rp25,71 kuadriliun) kepada Kongres, yang berpotensi menjadi lonjakan terbesar sejak Perang Dunia II.

Angka ini belum termasuk tambahan US$200 miliar (sekitar Rp3,428 triliun) yang diminta Pentagon untuk kebutuhan perang di Iran.

“Bahkan jika Kongres tidak menyetujui peningkatan penuh, sangat mungkin setidaknya US$100 miliar (sekitar Rp1,714 triliun) per tahun akan ditambahkan ke anggaran pertahanan dasar yang tidak akan disetujui jika tidak ada perang ini,” ujar Bilmes.

Ia memperingatkan lonjakan itu akan membebani defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, perang Irak sekitar US$2 triliun (sekitar Rp34.306 triliun) terjadi saat utang AS masih di bawah US$4 triliun (sekitar Rp68.612 triliun).

Menurut Bilmes, saat ini, utang AS melampaui US$31 triliun (sekitar Rp531.743 triliun), yang sebagian besar merupakan dampak dari perang sebelumnya di Irak dan Afghanistan.

“Kita meminjam untuk membiayai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi dan basis utang yang jauh lebih besar,” ujarnya.

“Akibatnya, biaya bunga saja akan bertambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Dan tidak seperti biaya di muka, ini adalah biaya yang kita bebankan kepada generasi berikutnya.”

(rnp/rds)


Add as a preferred
source on Google




[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |