Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan benchmarking ke sejumlah perusahaan teknologi terkemuka di Tiongkok untuk menjajaki peluang transfer teknologi, investasi, hingga pengembangan industri robotika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia.
Kunjungan tersebut dilakukan di sela agenda deklarasi pendirian World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) dan penyelenggaraan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai.
Dalam kunjungan itu, Airlangga didampingi Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Perniagaan dan Ekonomi Digital Ali Murtopo Simbolon, serta Konsul Jenderal RI di Shanghai Berlianto Situngkir.
Delegasi Indonesia mengunjungi sejumlah perusahaan teknologi, yakni Unitree Robotics, Deep Robotics, serta China Information and Communication Technologies (CICT)-FiberHome untuk mempelajari perkembangan teknologi robotika, AI, dan infrastruktur digital.
Airlangga mengatakan langkah tersebut merupakan kelanjutan dari peta jalan transformasi industri nasional melalui program Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan pemerintah pada 2018. Menurutnya, Indonesia kini tidak hanya perlu mengadopsi teknologi digital dan robotika, tetapi juga mengintegrasikannya dengan kecerdasan buatan guna memperkuat daya saing industri nasional.
“Dengan kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki dan dukungan pemerintah terhadap sektor digital, Indonesia optimistis menjadi negara yang disegani di kancah global pada tahun-tahun mendatang,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Saat mengunjungi Unitree Robotics, Airlangga menyaksikan demonstrasi robot humanoid dan robot berkaki empat (quadruped) yang telah digunakan secara komersial untuk inspeksi industri, patroli gardu listrik, hingga riset AI di berbagai universitas dunia.
Perusahaan tersebut diketahui telah mengirimkan lebih dari 50.000 unit robot quadruped ke berbagai negara dan menguasai sekitar 70% pangsa pasar global.
Menurut Airlangga, teknologi robotika cerdas memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus keselamatan kerja pada sektor-sektor berisiko tinggi seperti pertambangan, minyak dan gas, serta ketenagalistrikan.
Karena itu, pemerintah mendorong peluang transfer teknologi, perakitan, hingga pengembangan rantai pasok di Indonesia agar selaras dengan agenda hilirisasi industri dan pengembangan sumber daya manusia.
Delegasi Indonesia juga mengunjungi Deep Robotics yang mengembangkan robot quadruped untuk inspeksi industri, penanganan keadaan darurat, dan operasi di lingkungan berisiko tinggi.
Airlangga menilai teknologi tersebut relevan dengan kebutuhan Indonesia, terutama untuk mendukung operasional sektor energi, pertambangan, hingga memperkuat kapasitas penanggulangan bencana nasional.
Menurutnya, teknologi itu dapat menjadi solusi untuk operasi di wilayah terpencil dan sulit dijangkau, sekaligus membuka peluang kemitraan sistem integrasi dengan perusahaan lokal.
Kunjungan ditutup dengan peninjauan ke CICT dan anak usahanya, FiberHome, perusahaan milik negara Tiongkok yang bergerak di bidang infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi.
CICT-FiberHome telah lama beroperasi di Indonesia melalui penyediaan perangkat telekomunikasi dan jaringan serat optik. Ke depan, pemerintah melihat peluang kerja sama yang lebih luas, termasuk investasi untuk pengembangan pusat data (data center) dan infrastruktur komunikasi generasi berikutnya.
Airlangga mengatakan rangkaian kunjungan tersebut menjadi salah satu langkah konkret Indonesia sebagai negara pendiri (founding state) WAICO dalam memperkuat kolaborasi internasional di bidang AI.
“Melalui kemitraan investasi dan transfer teknologi, pemerintah berharap pengembangan industri berbasis AI dan robotika dapat mempercepat transformasi industri nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tandasnya.

1 day ago
15



































