Kelompok Hamas akan menggelar pemilihan pemimpin putaran kedua pekan depan, usai deretan pejabat top mereka dibunuh Israel saat agresi di Jalur Gaza, Palestina.
Menurut sumber Hamas, pemilihan internal calon ketua ini sudah mengerecut ke dua nama yakni mantan pemimpin politik Hamas Khaled Meshaal dan mantan wakil ketua Khalil Al Hayya, demikian dikutip Al Jazeera, Kamis (16/7).
Pemenang akan menggantikan dewan transisi saat ini, yang mengambil alih usai Plt Kepala Biro sekaligus pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahya Sinwar tewas di Gaza pada Oktober 2024 karena serangan Israel.
Nantinya, pemimpin terpilih akan melanjutkan sampai 2027, hingga pemilihan baru digelar.
Berdasarkan aturan internal Hamas, untuk memenangkan pemilihan kandidat harus memperoleh suara mayoritas 50 persen plus satu di badan konsultatif Dewan Syura.
Penjelasan singkat soal Dewan Syura, lembaga ini dipilih oleh anggota Hamas di masing-masing wilayah, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan luar negeri. Tiap Dewan Syura wilayah kemudian dikirim untuk membentuk Dewan Syura Pusat, yang berperan memegang keputusan politik dan strategis.
Dewan Syura Pusat lah yang akan memilih calon pemimpin Hamas.
Berdasarkan kerangka kerja tahun 2021, dua posisi kepemimpinan tertinggi harus mencakup perwakilan dari wilayah Gaza dan dua lainnya adalah Tepi Barat dan diaspora.
Al Hayya adalah perwakilan dari Gaza. Jika dia tak menang dalam putaran kedua, maka akan ditempatkan sebagai wakil kepala politik.
Ke depan, pemimpin berikutnya akan menghadapi tugas berat mengelola rekonstruksi pasca-perang dan hubungan dengan faksi-faksi Palestina lainnya, seperti Fatah.
Kerangka pemilihan saat ini berasal dari pemilihan umum internal Hamas pada awal 2021. Saat itu, Ismail Haniyeh terpilih menjadi kepala biro politik Hamas, sementara Sinwar terpilih kembali untuk memimpin Jalur Gaza dan Meshaal terpilih untuk memimpin sayap diaspora Hamas di luar negeri.
Struktur kelembagaan tersebut kemudian menghadapi gangguan yang belum pernah terjadi usai agresi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menargetkan berbagai tingkatan komando politik dan militer Hamas dan berambisi memusnahkan kelompok itu.
Israel terus mengincar para pemimpin Hamas hingga pada Juli 2024 Haniyeh tewas dibunuh di Teheran.
Dewan Syura kemudian menunjuk Sinwar sebagai penggantinya pada Agustus 2024. Dua bulan setelah itu, dia tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di Rafah.
Hamas lalu beradaptasi membentuk dewan kepemimpinan sementara yang beranggotakan lima orang untuk menangani pemerintahan dan negosiasi di masa perang. Komite transisi ini sejak itu secara nominal dipimpin oleh pejabat yang berbasis di Qatar, Mohammad Darwish.
Analis politik Palestina, Wissam Afifa, mengatakan struktur organisasi Hamas beroperasi mirip dengan proses biologis “pembelahan mitosis” yang berarti satu sel membelah untuk menciptakan dua sel identik.
Pada saat krisis, prosedur darurat dan rencana cadangan yang sudah ada secara otomatis memicu lapisan administrasi dan kepemimpinan sekunder untuk mengambil alih kendali.

5 hours ago
1




































